Wednesday, April 11, 2012

Bebaskan Tukijo dan 3 Kombatan Jogjakarta


7 Oktober 2011. Jam 2 pagi, ATM Bank Rakyat Indonesia (BRI) di Sleman, Jogjakarta, dibakar. Api menyebabkan ledakan yg menghancurkan tempat tersebut. Sabotase ini satu contoh lagi bentuk perlawanan terhadap negara yg menghancurkan pohonpohon, pegunungan, dan pantai untuk keuntungan sementara yg menindas rakyatnya

Sekarang 3 orang telah ditangkap (2 masih ditangkap --Eat dan Billy--, yg ketiga sudah dibebaskan). Mereka semua dituduh terlibat dalam pengrusakan ATM BRI. Kami tidak tertarik untuk mencari tahu apakah para tahanan tersebut "bersalah" atau tidak, atau tingkat "kejahatan" mereka. Kami akan meninggalkan spekulasi tersebut kepada para inkuisitor dan pelayan negara dalam pers. Kami tidak perlu mengetahui detail dari situasi secara keseluruhan, karena selama negara dan bank menjadi semakin kaya dari eksploitasi, akan selalu ada mereka yg akan melawan kekuatan tersebut dan menolak untuk bekerja sama. Sudah cukup orangorang yg dipenjara, berharap tidak hanya penjara mereka, tetapi semua penjara berhenti ada. "Kejahatan" bukanlah makanan di atas meja dan bos mengambil bagian terbesar. "Kejahatan" adalah pengrusakan hutan dan perusahaan tambang yg memukuli dan membunuh siapa saja yg mereka inginkan dengan bantuan polisi.
Kebebasan adalah melawan dan merebut kembali hidup anda dari penindasan.

Kita mengetahui bahwa Indonesia adalah rezim yg disangga oleh kapitalis dan kaum militeris barat. Bangsa yg menyiksa dan membantai oposisinya, seperti setiap negara yg bisa lolos dari itu dimanapun mereka bisa.

Kulon Progo merupakan daerah pertanian dekat Jogjakarta, dan pada tahun 2005 Jogja Magasa Mining dan industri logam Indomines ingin mengambil lahan disana untuk industri mereka. Para petani disana tidak memberikan tanah mereka kepada perusahaan karena mereka tidak ingin alam dihancurkan oleh pertambangan. Banyak dari para petani mencoba untuk mengatasi masalah ini tanpa kerusuhan, tetapi tidak berhasil. Sekarang mereka siap untuk mempertahankan kehidupan mereka.

Ini dimulai ketika perusahaan membayar 300 orang untuk menghancurkan rumahrumah petani dan semua tanaman disana.

Hal ini membuat semua petani dan orangorang disekitar daerah tersebut marah. Martabat manusia dan alam dijajah oleh uang, dan tidak akan pernah ada bantuan untuk para petani supaya bisa bertahan hidup. Polisi melindungi orangorang yg menyerang para petani karena perusahaan juga membayar polisi. Sebuah cerita lama yg khas.

Tukijo adalah seorang petani yg ditangkap dan dipenjara hanya karena beliau vokal dalam menyuarakan perlawanannya dalam situasi ini. Orangorang di Indonesia telah membuat banyak kegiatan di sekitar masalah ini: demonstrasi, artikel, film, grafiti, dan merusak properti perusahaan.

Para petani dan orangorang Kulon Progo, Pandang Raya, Papua Barat, Bima, dan tempattempat lainnya, mengharapkan solidaritas internasional dan keterlibatan dalam perjuangan mereka bersama kaum anarkis dan anti-kapitalis, yg semuanya melawan teror kekerasan dari para bos di Indonesia yg membayar pembunuh dan pelindung perusahaan. Jangan biarkan para petani bertarung sendirian!

Sesuai dengan keinginan petani, kami menuntut tanah itu diberikan kembali kepada para petani dan kebebasan untuk kamerad kami yg dipenjara karena hal ini.

Negara - Korporasi - Militer - Polisi adalah Teroris!

Bebaskan Tukijo dan mereka yg dituduh menyerang ATM Bank BRI!

Anarkis dalam Solidaritas_

*Artikel diatas merupakan terjemahan artikel solidaritas untuk Kulon Progo dalam web 325 dan pernah dimuat dalam booklet Act for Freedom. Saya terjemahkan untuk terus menyegarkan ingatan tentang sebuah perlawanan nyata terhadap dominasi negara dan kapital, serta untuk terus menggalang solidaritas kepada mereka yg dengan berani merebut kembali hak penuh atas hidup mereka. Terus sebar api Solidaritas, terus melawan, dan terus tanam kebencian terhadap negara, korporasi, kapital, polisi, dan militer!

Tolak Semua Penjara!
Panjang Umur Solidaritas!
Panjang Umur Perlawanan!
Panjang Umur Insureksi!
Panjang Umur Anarki! video

No comments:

Post a Comment