Monday, November 16, 2009

KAUM TANI DIBAWAH ANCAMAN KAPITALISME

KAUM TANI DIBAWAH ANCAMAN KAPITALISME

Saat ini petani Indonesia sering menemukan kenyataan bahwa beras yang mereka produksi harganya jauh lebih mahal daripada beras yang diimpor (didatangkan dari luar Indonesia). Demikian pula halnya dengan hasil-hasil (produk) pertanian yang lain. Kenapa hal tersebut terjadi ? sejak kapan terjadinya dan apa akibatnya bagi kehidupan petani dan masyarakat Indonesia pada umumnya ?

Untuk memahami masalah-masalah ini, kita perlu mengenali apa yang disebut kapitalisme dan Imperialisme. Apa artinya kapitalisme ? kapitalisme adalah system pergaulan hidup yang timbul dari cara produksi yang memisahkan kaum buruh (termasuk buruh tani dan buruh perkebunan) dari alat-alat produksi. Dengan cara produksi semacam inilah, maka keuntungan (nilai lebih) tidak jatuh ke tangan buruh, melainkan jatuh ke tangan majikan (pemilik modal/capital). Kapitalisme oleh karenanya pula, menyebabkan penumpukan capital, konsentrasi capital, sentralisasi capital, dan barisan penganggur.

Sedangkan imperialisme adalah suatu nafsu, suatu system menguasai atau mempengaruhi ekonomi bangsa lain atau negeri, suatu system merajai atau mengendalikan ekonomi atau negeri bangsa lain. Ini adalah suatu kejadian di dalam pergaulan hidup, yang timbulnya ialah oleh keharusan-keharusandi dalam ekonomi suatu negeri atau suatu bangsa. Selama ada perekonomian bangsa, selama ada ekonomi negeri, selama itu dunia melhat imperialisme. Dia kita daapatkan dalam burung Garuda Rum (Kerajaan Romawi) terbang ke mana-mana menaklukkan negeri-negeri sekeliling dan di luar lautan Tengah. Dia kita dapatkan di dalam nafsu bangsa Spanyol menduduki negeri Belanda untuk bias mengalahkan Inggris, diaa kita dapatkan di dalam nafsu Kerajaan Timur Sriwijaya menaklukkan Negeri Semenanjung Malaka, menaklukkan Kerajaan Melayu, mempengaruhi rumah tangga negeri Kamboja atau Campa. Dia kita dapatkan dalam nafsu negeri Majapahit menaklukkan dan mempengaruhi semua Kepulauan Indonesia, dari Bali sampai Kalimantan, dari Sumatera sampai Maluku.

Imperialisme bukan saja system atau nafsu menaklukkan bangsa lain, tetapi imperialisme bisa juga hanya nafsu atau system mempengaruhi ekonomi Negara atau bangsa lain. Dia tidak usah dijalankan dengan pedang atau bedil atau meriam atau kapal perang, tidak usah berupa perluasan negeri-daerah dengan kekerasan senjata. Dia bisa juga dijalankan dengan putar lidah atau cara halus-halusan saja, atau diplomasi perdagangan dan dalam perkembangan kapitalisme global, dilakukan dengan tarif barang dan jasa.

Perjanjian Tentang Pertanian dan Akibatnya Bagi Petani Kecil

Perjanjian tentang Pertanian (AoA) adalah salah satu hasil Putaran Urugay yang mengatur perdagangan pangan secara internasional dan dalam negeri. Aturan-aturan ini memacu lajunya konsentrasi pertanian ke agribisnis dan melemahkan kemampuan Negara-negara miskin untuk mencukupi kebutuhan swadaya pangan dengaan cara bertani subsisten (bahan pokok penyembung hidup). Mengingat sebagian besar penduduk Indonesia adalah petani, perjanjian Tentang Pertanian (AoA) sangat berpengaruh besar terhadap kehidupan petani Indonesia.

Menurut dasar pikiran ketetapan tersebut, daripada mencukupi sendiri kebutuhan pangan, lebih baik Negara-negara itu membeli makanan dalam pasar Internasional dengan uang yang diperoleh dari hasil ekspor. Namun, banyak Negara-negara kurang berkembang menghadapi rendahnya harga produk mereka atas sejumlah ekspor mereka yang terbatas. Selama empat tahun pertamaWTO, harga bahan-bahan pertanian jatuh, sedangkan harga makanan tetap tinggi. System ini dapat merugikan petani maupun konsumen dan sekaligus membuka jalan bagi perusahaan-perusahaan transnasional mendominasi pasar, terutama di Negara-negara miskin.

Dengan menanda tangani Perjanjian Pertanian (AoA) Negara-negara dunia ketiga menyadari bahwa mereka telah setuju untuk membuka pasar-pasar mereka sementara memungkinkan para Adikuasa pertanian menguatkan system produksi pertanian bersubsidi mereka yang menyebabkan anjloknya harga padda pasar-pasar mereka. Pada gilirannya, proses tersebut, menghancurkan pertanian berbasis petani kecil.

Aturan-aturan WTO yang terbaru mengenai pertanian mendesak Negara-negara miskin untuk meliberalisasi pasar-pasar mereka, sementara pada sisi lain memungkinkan Negara-negara maju/industri untuk mensubsidi dan membanting harga produk-produk ekspor pertanian mereka. Ekspor yang dilakukan dengan membanting harga, terutama oleh Negara-negara Uni Eropa dan Amerika Serikat menghancurkan kehidupan di Negara-negara miskin, dan harus secepatnya dihapuskan. Di Afrika Barat, sebagai contoh banjir konsentrat tomat murah Eropa telah menghancurkan produksi dan pengolahan tomat local, sementara produk-produk susu Uni Eropa yang bersubsidi tinggi telah menyebabkan hilangnya pendapatan para produsen susu di Brazil dan Jamaica. Sedangkan di Indonesia, para petani kecil penghasil beraas mengeluhkan banjirnya beras impor, yang harganya selalu lebih murah daripada beras yang mereka produksi.

Pemerintah-pemerintah Negara kaya terutama Amerika serikat seringkali menyatakan kesediannya terhadap pengembangan lapangan bermain yang sama dalam pertanian. Namun, dalam kenyataannya, secara bersama-sama Negara-negara OECD (Negara-negara industri maju0 membelanjakan $350 Milyar untuk mensubsidi para petani mereka. Di Amerika Serikat, ini berarti subsidi senilai $20.000 untuk tiap orang petani. Globalisasi pasar-pasar pertanian berarti bahwa para petani ini bersaing dengan para petani kecil di Negara-negara miskin, yang banyak diantaranya hidup dengan kurang dari $ 1 per hari.

Pada masa krisis, banyak Negara berkembang/miskin telah meliberalisasikan impor pangan mereka, atas tekanan dari IMF dan Bank Dunia, bahkan memberlakukan tarif nol persen untuk impor bahan pangan utamanya (sembako). Pada masa normal nantinya, sulit untuk memberlakukan tarif lagi.

Akibat dua keuntungan yang diperoleh dari perjanjian tantang pertanian yakni produk pertanian yang bersubsidi dan tarif bea masuk yang sangat rendah adalah sangat mengerikan bagi para petani di Negara-negara miskin dan berkembang. Petani kecil tidak akan mampu bersaing dalam pasar global yang dikendalikan oleh perusahaan transnasional sementara tekanan untuk menyediakan produk tanaman ekspor akan menggusur jutaan petani dari lahan mereka, jadi, sekali lagi, patut dicamkan bahwa inilah akibat utama dari Perjanjian tentang Pertanian/WTO bagi petani di Negara-negara berkembang/miskin : menggusur jutaan petani kecil di lahan mereka.

Kapitalisme Global di Lapangan Agraria : Pasar Tanah dan Proyek Administrasi Pertanahan

Setelah melihat kepentingan yang dibawakan oleh WTO lewat perjanjian tentang Pertanian (AoA), maka kita perlu pula mengetahui kepentingan kapitalisme global terhadap alat produksi yang paling penting bagi petani dan sector pertanian yaitu tanah. Untuk hal ini, kapitalisme global dan para pendukungnya (termasuk kalangan intelektual) mengembangkan konsep yang dikenal sebagai pasar tanah (land market), yang secara gencar dipromosikan oleh Bank dunia pada tahun-tahun 2000-an awal dis eluruh dunia. Di Indonesia, proyek Bank dunia ini dikenal sebagai Proyek Administrasi Pertanahan (PAP) atau Land Administration Project (LAP).

Bank dunia memiliki pengalaman yang cukup panjang dalam bantuan kebijakan pertanhan Negara-negaara berkembang. Dua desain utama yang pernah dianut oleh Bank Dunia adalah Land reform dan Land Market, walalupun motif dari bank Dunia adalah sama-sama melanggengkan pengaruh Amerika. Namun terdapat perbedaan-perbedaan penting antara keduanya, yang terletak pada dataran agenda ekonomi-politik, sector yang menjadi tumpuan dan periode waktu penerapan kebijakan tersebut.

Pada decade sekarang, Bank Dunia tidak lagi menggunakan desain utama land Reform, karena argumentasi ekonomi politiknya menurut Bank Dunia sudah tidak lagi tepat. Dalam upaya menerapkan pasar tanah tersebut, Bank Dunia menyarankan agar pemerintah Indonesia melakukan deregulasi semua perundang-undangan yang dapat membatasi ruang gerak investasi, termasuk di dalamnya deregulasi pertanahan. Dari tinjauan ini, proses pengadaan tanah untuk investasi modal besar selama ini mengalami sejumlah hambatan yang mengganggu. Hambatan tersebut didasarkan atas tipe ideal prinsip pasar bebas. Arah baru strategi, kebijakan program, dan proyek pertanahan tersebut adalah membentuk pasar tanah yang efisien.

Salah satu proyek deregulasi pertanahn dalam kerangka land market (pasar tanah) yang disarankan oleh Bank Dunia kepada pemerintah Indonesia adalah apa yang disebut sebagai Proyek administrasi Pertanahan (land Administration Project). Ada suatu titik masuk untuk melihat asal-usul PAP (Proyek Administrasi pertanahan) sebagai bagian dari strategi global Bank Dunia, yakni uraian Bab II dalam dokumen Bank Dunia berjudul Staff Appraisal Report-Land Administration Project (SAR) dengan judul Bank Experience, Strategy and Rationale for bank involvement. Pada bagian awal Bab II SAR tersebut, diuraikan pengalaman keberhasilan proyek sejenis di Thailand, yang juga bekerja sama dengan AusAid. Namun, tidak diuraikan pengalaman kegagalan serius dari proyek di Papua nugini. Kecenderungan untuk mempopulerkan pengalaman yang berhasil (menurut ukuran Bank Dunia), dan menyembunyikan pengalaman kegagalan tentunya menimbulkan pertanyaan. Satu pertanyaan penting adalah apa latar dari perluasan proyek-proyek sejenis ?

Saat ini paling tidak ada beberapa Negara, di mana Bank dunia bersama-sama dengan AusAid (badan kerja sama pembangunan Australia) membiayai dan memberi hutang untuk proyek sejenis di berbagai Negara yang berkembang, diantaranya Thailand, papua Nugini, Laos, dan el savador. Bank Dunia sendiri telah berpengalaman lebih dari 35 tahun menghutangi proyek semacam ini, untuk Negara-negara di dua wilayah : Central America dan South-and Southeast asia.

Desakan Bank Dunia kepada pemerintah Indonesia untuk melaksanakan deregulasi pertanahan berada dalam kerangka neo-liberal. Asal-usul deregulasi ini dapat ditelusuri dari Program Penyesuaian structural (SAP) dari Bank Dunia terhadap ekonomi politik Negara-negara penghutang, termasuk Indonesia. Karena itu, deregulasi ini hanya dapat dimengerti dari siasat bank Dunia terhadap Negara-negara penghutang termasuk Indonesia, latar belakangnya sangat jelas, yakni agar Negara-negara penghutang mampu melunasi hutang-hutangnya atau bank Dunia harus menyelamatkan kekayaan dirinya dan mitra-mitra Negara pemodalnya.

Ditetapkan bahwa tujuan proyek administrasi Pertanahan(PAP) adalah proyek yang dijalankan oleh Pemerintah Indonesia yang bertujuan utama : meningkatkan pasar tanah (land market) yang wajar dan efisien dan mengentaskan konflik masyarakat atas tanah, melalui percepatan pelaksanaan pendaftaran tanah sebagai fase permulaan dari program pendaftaran tanah jangka panjang pemerintah Indonesia (Bagian A), dan perbaikan system kelembagaan administrasi pertanahan yang diperlukan untuk menunjang program pendaftaran tanah tersebut (bagian B). tujuan utama kedua proyek tersebut (Bagian C) adalah untuk menunjang upaya pemerintah Indonesia untuk mengembangkan kebijaksanaan pengelolaan pertanahan. Tujuan-tujuan yang berkaitan percepatan pendaftaran tanah ini adalah untuk menunjang pengentasan kemiskinan melalui jaminan hak pemakaian tanah yang ditingkatkan dan kesempatan agunan kepada pemilik tanah, serta untuk menyediakan insentif bagi investasi dan tata guna tanah yang berkelanjutan.

Selintas, tujuan Proyek Administrasi pertanahan (PAP) ini tampak akan menguntungkan rakyat Indonesia. Namun, dalam hal ini kita mesti membongkar secara sungguh-sungguh tujuan jangka panjang dari kepentingan Bank Dunia dalam mempromosikan pasar tanah ini. Apa yang sesungguhnya dikehendaki oleh Bank Dunia ? Bank Dunia menginginkan peran pemerintah sebagai penyedia tanah dikurangi otoritasnya. Bank dunia juga hendak menghapus seoptimal mungkin para calo pertanahan. Tentunya hal ini bagus selama ia memang ditujukan untuk kepentingan rakyat. Sayangnya tidak demikian, Bank Dunia lebih berpikir bagaimana membuat iklim investasi di Indonesia lebih nyaman bagi beroperasinya modal-modal besar, khususnya perusahaan-perusahaan multi/trans-nasional, dengan cara terciptanya mekanisme penyediaan tanah yang lebih efisien bagi kepentingan mereka.


Gerakan Tani Persil IV-Deli Serdang ( Ojudista )


Sunday, May 17, 2009

Event Report Part.1

Solidaritas Aksi Korban Kejahatan Korporasi, Bersatu dalam Solidaritas…

Pencemaran dan eksploitasi lingkungan, gangguan kesehatan, penggusuran, penghilangan tempat tinggal, pemutusan kerja sepihak, penghilangan mata pencarian, dan pelanggaran HAM lainnya atas nama profit/keuntungan semakin banyak terjadi di sekitar kita. Terutama sekali terkait dengan aktivitas pertambangan, migas, dan industri yang dilakukan oleh korporasi. Warga yang menjadi korbanpun tak luput dari tindak represif oleh aparat kepolisian, militer, maupun satpol PP. Kasus Lumpur Lapindo (Bakrie Brothers), rencana pembangunan PT. Semen Gresik, rencana penambangan biji besi PT. Jogya Magasa Iron (JMI), dan penggusuran warga Taman BMW Jakarta Utara adalah segelintir dari setumpuk kasus pelanggaran HAM yang dilakukan oleh korporasi dengan dukungan negara.

Atas rentetan kejadian itulah, SAKSI (Solidaritas Anti Kejahatan Korporasi) bekerjasama dengan Viaduct (pers mahasiswa fakultas hukum Atma Jaya) memfasilitasi kegiatan bertema “In Solidarity We Fight” pada Sabtu, 2 Mei 2009 lalu bertempat di kampus Atma Jaya, Jakarta. Kegiatan ini bertujuan untuk melebur keterpisahan antara ‘korban’ dan ‘bukan korban’ yang selama ini kerap terjadi. Bahwa dalam kondisi dan situasi kapitalisme global seperti saat ini, bisa dikatakan bahwa kita semua adalah korban. Kegiatan ini sekaligus untuk mensosialisasikan beberapa kasus pelanggaran HAM di beberapa tempat seperti Porong, Kulon Progo, Pati, dan Jakarta dengan menghadiri warga yang mengalami langsung kejadian karena selama ini akses dan informasi mengenai hal ini sangat sulit terakses oleh kita yang berada di luar wilayah kasus. Pun mendapat informasi, informasi yang kita dapat hanya bagian permukaan saja, tidak menyeluruh, dan cenderung tidak berperspektif korban, tak heran warga yang menghadapi kasus seperti terisolir sendiri dalam permasalahan yang dihadapai tanpa adanya dukungan dari masyarakat lain.

Kegiatan ini juga bertujuan untuk membangun semangat solidaritas diantara sesama, terutama dikalangan pelajar/mahasiswa dengan membuka ruang-ruang atau peran-peran dukungan melalui berbagai media. Karena siapapun dan apapun latar belakang kita, kita tetap dapat berperan dalam mendukung dan bersolidaritas. Bagi yang gemar bermusik dapat mengkampanyekan kasus dan menyemangati melalui karya musiknya. Bagi yang gemar menggambar dapat mengkampanyekan kasus melalui karya gambarnya. Bagi yang gemar fotografi dapat mengkampanyekan kasus melalui hasil jepretannya, dan masih banyak sekali ruang dukungan lain yang dapat kita lakukan dengan cara yang menyenangkan dan kreatif.

Kegiatan ini diisi oleh beberapa aktivitas seperti pemutaran film dan diskusi kasus Lumpur Lapindo oleh para pemuda Porong, kasus PT. Semen Gresik oleh warga Sedulur Sikep Pati, kasus PT. JMI oleh petani pesisir lahan pantai Selatan Kulon Progo, dan pembuat film dokumenter penggusuran taman BMW Jakarta Utara. Kemudian Workshop sablon donasi oleh SAKSI, workshop poster dari cukil kayu oleh Media Legal & Atap Alis , workshop komik oleh Rahman, workshop craft dari bahan bekas oleh BikinBarang, workshop ukir kayu oleh perupa Imam Bucah, talkshow musik solidaritas oleh Efek Rumah Kaca, tabling dari Institut-A-, JATAM, AgenKultur, Viaduct, makan gratis oleh Food Not Bombs. Selain itu ada penampilan art & theaterical performance mengenai kejahatan korporasi dan pendidikan.

Acara yang mengedepankan konsep bersolidaritas ini juga mengadakan kegiatan donasi buku dan uang, pengunjung menyumbangkan buku-buku untuk komunitas di Porong, Pati dan Kulon Progo yang sedang membangun wadah pemberdayaan komunitasnya. Sementara donasi uang diperoleh dari hasil penjualan partisipan yang membuka meja (tabling) seperti sablon donasi, buku, poster, dan lain sebagainya. Adapun pengunjung dan partisipan kegiatan ini berasal dari individu, pelajar/mahasiswa dan komunitas dari Jakarta, Bandung, Pati, Kulon Progo, Porong, Blora, Randublatung, Semarang. Acara yang dimulai sejak pagi hari ini berakhir pada pukul 21.00 WIB. [Neng Dedet]

“Mereka hidup dari pasir, menanak nasi dari pasir, rumah-rumah mereka terbuat dari pasir, anak-anak mereka dibesarkan dari pasir, karena susu-susu ibu mereka adalah pasir…”

~Paguyuban Petani Lahan Pantai Kulon Progo~


-Ini adalah laporan kegiatan untuk majalah Folder, laporan selanjutnya yang lebih detail akan menyusul yahhh...-

Kami ucapakan terimakasih banyak untuk semua teman2 yang telah mendukung kegiatan ini baik secara langsung atau tidak langsung, juga terimakasih pada teman2 yang tidak peduli...

Perjalanan masih panjang, mari berdansa diatas api kawan...

Wednesday, April 22, 2009

Film dan Diskusi Sesi II - Tragedi Lumpur Lapindo

SAKSIKAN-FILM TRAGEDI LUMPUR LAPINDO!!!

Dalam Diskusi dan Film sesi II - 14.00 - 15.00 WIB beserta testimoni warga/korban dan diskusi.


Judul : TERUSIR DARI DESA SENDIRI
Durasi: 08:57


Alat-alat berat berderap memasuki pintu desa, truk-truk pengangkut
material sirtu siap sedia menumpahkan isi muatan, desa itu akan
ditenggelamkan. Oktober 2008 merupakan bulan bersejarah bagi warga
desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Sidoarjo. Bulan itu, adalah saat
terakhir mereka masih bisa melihat desanya, karena sesudahnya mereka
harus merelakan sedikit demi sedikit air bercampur Lumpur panas
menggenangi dan menenggelamkan desanya.

Memasuki bulan-bulan terakhir tahun 2008, kondisi tanggul disekitar
area semburan Lumpur panas Lapindo semakin kritis, musim hujan akan
segera datang, sementara pembuangan Lumpur melalui Kali Porong
mengalami ketersendatan. Keputusan untuk membuang Lumpur ke Kali
Porong akhirnya menunjukkan kutukannya. Tumpukan Lumpur yang cepat
mengering dengan segera menutup hampir semua bagian sungai dan hanya
menyisakan sedikit bagian yang bisa mengalirkan air. Membuang lumpur
terus menerus ke sungai akhirnya sampai ketahap maksimalnya, sungai
itu tidak bisa lagi menampung Lumpur. Debit air yang kecil tidak mampu
mendorong Lumpur ke laut, akibatnya, semua Lumpur itu mengendap dan
mengering menjadikan Kali Porong tak ubahnya lapangan baru. Sementara
semburan masih terus meluap, Lumpur harus dicarikan jalan agar tanggul
tidak jebol didaerah yang tidak mereka inginkan. Dan kesialan karena
kesalahan operasi itu ditimpakan kepada warga desa Renokenongo.

Desa Renokenongo adalah salah satu desa yang sudah masuk kedalam peta
area terdampak berdasar Peraturan Presiden 14/2007. Sebagian wilayah
desa ini sudah tenggelam pasca ledakan pipa gas pada 22 November 2006,
namun sebagian lagi masih ditinggali oleh warganya. Dan hingga bulan
Oktober 2008 itu, mereka sama sekali belum mendapatkan kompensasi
apapun dari pihak Lapindo Brantas. Mereka menolak melepas lahan mereka
untuk dijadikan tanggul baru, karena Lapindo selalu menggunakan dalih
keselamatan bersama untuk mengusir warga dan menenggelamkan desa,
namun pembayaran atas tanah warga yang tenggelam tidak pernah
diselesaikan. Warga desa Renokenongo meminta pembayaran terlebih
dahulu sebelum tanah mereka dijadikan kolam penampungan Lumpur (pond).

Tapi usaha mereka akhirnya kandas, 11 Oktober 2008 ribuan polisi
diturunkan untuk mengusir warga keluar dari desanya, 2 orang ditahan
karena mempertahankan tanahnya dan yang lainnya harus menerima
tindakan represif. Dengan tanpa kejelasan nasib akan status tanah
mereka, mereka dusir dari rumahnya sendiri, dari tanahnya sendiri,
dari desanya sendiri. Mendung bergayut diatas langit Renokenongo, saat
warga bergegas, berpacu dengan didirikannya tanggul dan luberan Lumpur
yang memasuki desa, mereka menyelamatkan apapun yang masih tersisa
untuk diselamatkan. Sedikit yang masih ada untuk bisa bertahan hidup,
setelah mereka kehilangan tanah, rumah dan kehidupan yang dirampas
begitu saja dari mereka.

Dengan dalih bahwa pembayaran akan segera diselesaikan, BPLS (Badan
Penanggulangan Lumpur Sidoarjo) dan Lapindo bersikeras bahwa warga
harus pergi dari desanya dan bahwa desa itu harus segera
ditenggelamkan. Tapi kembali lagi, janji Lapindo adalah buih kosong
yang selalu digunakan untuk membenarkan tindakannya. Hingga memasuki
November 2008, janji itu belum juga dilaksanakan, warga yang kecewa,
akhirnya melakukan pemblokiran akses masuk ke desa dan memaksa alat
berat berhenti bekerja, keinginan mereka untuk mendapat kejelasan
pembayaran atas tanah mereka yang ditenggelamkan sama sekali tidak
berbuah manis. Kembali mereka hanya menemukan kebohongan yang dipilin
bersama antara korporasi dan alat Negara. Dengan bermodalkan janji
bahwa urusan tanah warga sedang diproses dan bahwa warga harus sabar,
BPLS meminta warga tidak mengganggu kerja penanggulan. Bahkan
sesudahnya, warga Renokenongo harus diperhadapkan dengan warga desa
tetangga yang juga tidak ingin desanya tenggelam. Memilih untuk tidak
terjadi konflik, warga akhirnya merelakan desanya hilang,
ditenggelamkan Lumpur panas, tanpa kejelasan akan nasib mereka.

Hingga sekarang, kebohongan dan janji kosong Lapindo untuk
menyelesaikan pembayaran tanah warga yang telah tenggelam sama sekali
tidak terealisasi. Hampir ribuan hektar tanah warga telah terkubur
dibawah pekat Lumpur, ratusan ribu keluarga terusir, dan terserak.
Kehidupan damai dulu itu telah dihancurkan.

Pemutaran Film sesi II - Penggusuran Warga Taman BMW












SAKSIKAN-FILM PENGGUSURAN WARGA TAMAN BMW!!!!

Judul : Tanah Air bukan untuk Rakyat Miskin
Durasi : 10.00''


Dalam diskusi dan Film sesi II - 15.00 - 16.00 - Pemutaran film Penggusuran di Jakarta, beserta testimoni warga/korban dan diskusi


Sinopsis :

Malam yang sangat singkat dan menengangkan.
Seluruh orang terlihat bergerak kesana sini dan berjaga jaga.
Di tengah jalan, ban ban bekas di bakar.
Orang orang berdiri, dengan tombak dan batu di tangan.
Obrolan dan kecemasan ada dimana mana.
Dan mata mata itu, jarang ada yang berkedip.
Sebab ada kabar kampung mereka bakal di gusur.

Seperti rumor tapi juga bisa bukan. Orang orang berbicara tentang
kemungkinan jadi tidaknya rumah mereka akan digusur.
"Tidak ada pemberitahuan dari pemerintah", kata salah seorang.
Semua mulai cemas dan bingung, berkumpul dan saling "sikep" merapat.




Video ini menunjukkan bagaimana kekerasan negara terhadap rakyat miskin. Perisitiwa penggusuran terbesar sepanjang sejarah ibukota, jakarta.

Pagi itu, kira kira pukul 5.30, 24 Agustus 2008, Taman BMW, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Sekitar 6000 pasukan gabungan (satpol PP, polisi, dan tentara) bersenjata lengkap, berbaris dan berjalan sambil berteriak teriak mendatangi kampung kumuh. Sedang di dalam kampung, orang orang mulai resah, dan berteriak teriak, sebagian pasrah dan benar benar duduk terdiam diantara barang barang miliknya.

Konon, penggusuran ini merupakan yang terbesar di jakarta. Sedikitnya ada 1126 rumah yang di huni lebih dari 4000 keluarga miskin, di gusur secara paksa oleh para petugas bersenjata.
Pemerintah berasalan akan menjadikan Taman BMW, seluas 65,5 hektar ini, sebagai
kawasan RTH (Ruang Terbuka Hijau) serta areal Stadion olah raga bertaraf internasional.

Akibat dari penggusuran ini, ribuan orang tiba tiba kehilangan tempat tinggal mereka dan tidak kurang dari 300 anak tidak bisa melanjutkan kembali sekolah. Pemerintah bekeras hati tidak memberi solusi alternatif apapun atas tindakan penggusuran ini.

Pada tanggal 8 Oktober 2008, penggusuran terjadi kembali, sedkitnya ada 400 keluarga yang masih bertahan di Taman BMW dengan gubug seadanya, di usir oleh para petugas Satpol PP. Kali ini, tidak saja dirobohkan dan di hancurkan melainkan seluruh yang ada di taman BMW di bakar oleh petugas.

Kini, tidak ada lagi sisa sisa yang bisa dibuat menjadi tempat berteduh.
Tahun 2009, para korban Taman BMW mecoba bekerja sama dengan berbagai pihak, salah satunya dengan pihak PJKA. Namun sayangnya, usaha ini pun gagal.

Tanah Air, seperti nya bukan untuk rakyat miskin. Semangat keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia, menjadi lelucon paling mengerikan. Sebab di atas reruntuhan rumah yang digusur akan selalu ada tanya : Saya kah rakyat itu ?

Tolak Penggusuran !!

Update 24 april 2009

II. List Partisipan

Pentas Seni

  1. Tenggorok
  2. Angklungan KGB
  3. Tika
  4. The Gags
  5. Saos Tomat
  6. Agitator
  7. Modus Operandi (Hiphop conscious, Jakarta)
  8. Manifestone (Jazz Hiphop, Jakarta)
  9. Stiff Rebel
  10. Burial Chamber
Performance
  1. Santo ‘Klingon’ (Teaterikal performance)
  2. Dj Pop vs Exi (Theaterikal , Blora)

Workshop

  1. Efek Rumah Kaca*; Musik Solidaritas
  2. Rahman; Workshop Komik Golput
  3. BikinBarang; Workshop barang re-use
  4. Imajinasi Merdeka; Workshop lukis seprai
  5. Atap Alis; Workshop Cukil
  6. Gonjes; Workshop Patung

Tabling

  1. Agen Kultur (selebaran, postcard)
  2. Institut-A- (lapak literatur)
  3. Kontinum, Makasar
  4. Food Not Bombs (Lebak Bulus & Pondok Jati)
  5. Anak Muda Production (lapak zine, kaos, dll)
  6. JATAM (poster, leaflet, dll)
  7. Sablon Porong (lapak sablon)
  8. Sablon donasi SAKSI (lapak sablon)
  9. Viaduct
Keterangan:

Charvaka (Hardcore Punk, Bandung) dan Capital is Carnage (Grindcore cybertech, Bandung)
batal tampil di acara.

Monday, April 20, 2009

update SAKSI 20 April 2009

Berikut kami sampaikan beberapa hal terkait dengan partisipasi teman-teman semua dalam acara Solidaritas Aksi Korban Kejahatan Korporasi tanggal 2 Mei 2009 di Jakarta.

I. Umum

  1. Karena kegiatan ini adalah kegiatan kolektif dan partisipatoris, maka mekanisme yang kami jalankan berdasarkan partisipasi langsung dan aktif dari para partisipan, dan perlu dipahami bahwa dana kegiatan ini juga atas donasi. Maka setiap orang yang berpartisipasi mengambil peran dan memenuhi kebutuhannya masing-masing sesuai dengan kemampuannya.
  2. Panitia menyediakan tempat menginap bagi partisipan di sekretariat KONTRAS atau WALHI.
  3. Run Down Acara
    Waktu Acara Keterangan
    10.00 - 11.00 - Pembukaan Tabling

    - Workshop umum

    - Pentas Seni I

    (3 performer, @ 20 menit)



    11.00 - 13.00 Pemutaran Film dan Diskusi sesi I
      1. Pemutaran film kasus PT. Semen Gresik, Pati
      2. Testimoni warga/korban
      3. Pemutaran film kasus rencana pertambangan biji besi, Kulonprogo
      4. Testimoni warga/korban
      5. Diskusi
    13.00 - 14.00 Pentas Seni II

    (3 performer, @ 20 menit)


    14.00 - 15.00

    Diskusi dan Film sesi II

      a. Pemutaran film kasus Lapindo Brantas.inc, Porong

      b. Testimoni warga/korban

      c. Diskusi

    d. Pemutaran film Penggusuran

    Jakarta

      e. Testimoni warga/korban

      f. Diskusi

    15.00 - 16.00
    16.00 – 17.00 Workshop berjadwal
    • - Bikin barang
    17.00 – 18.00 Pentas Seni III

    (3 performer, @ 20 menit)

    18.00 – 19.30 Diskusi sesi III: Koprorasi & Negara sebagai wujud Kapitalisme, serta ruang-ruang pemberdayaan/perlawanan komunitas*
    19.30 - 20.30 Workshop berjadwal :

    Klinik musik solidaritas

    (Efek Rumah Kaca)*

    20.30 – 22.30 Pentas Seni IV & Penutupan

    (6 performer, @ 20 menit)

* masih dalam konfirmasi


II. List Partisipan

Pentas Seni

  1. Dj Pop vs Exi (Theaterikal performance, Blora)
  2. Tenggorok
  3. Angklungan KGB
  4. Tika
  5. The Gags
  6. Saos Tomat
  7. Agitator
  8. Santo ‘Klingon’ (Teaterikal performance)
  9. Charvaka (Hardcore Punk, Bandung)
  10. Capital is Carnage (Grindcore cybertech, Bandung)
  11. Modus Operandi (Hiphop conscious, Jakarta)
  12. Manifestone (Jazz Hiphop, Jakarta)
  13. Stiff Rebel
  14. Burial Chamber

Workshop

  1. Efek Rumah Kaca*; Musik Solidaritas
  2. Rahman; Workshop Komik Golput
  3. BikinBarang; Workshop barang re-use
  4. Imajinasi Merdeka; Workshop lukis seprai
  5. Atap Alis; Workshop Cukil
  6. Gonjes; Workshop Patung

Tabling

  1. Agen Kultur (selebaran, postcard)
  2. Institut-A- (lapak literatur)
  3. Kontinum, Makasar
  4. Food Not Bombs (Lebak Bulus & Pondok Jati)
  5. Anak Muda Production (lapak zine, kaos, dll)
  6. JATAM (poster, leaflet, dll)
  7. Sablon Porong (lapak sablon)
  8. Sablon donasi SAKSI (lapak sablon)
  9. Viaduct

Film Screening + Diskusi

  1. Partisipan diminta membawa materi film dokumenter dan review kasus.
  2. Materi Film dikirim ke panitia untuk keperluan di perbanyak dan nantinya akan dijual pada hari H. Hasil penjualan akan di bagi untuk biaya produksi dan selebihnya untuk komunitas yang bersangkutan.
  3. Review kasus dan profil komunitas dikirim sebelum acara ke panitia untuk dilampirkan dalam zine/booklet. Isi review kasus dan komunitas terdiri atas; Gambaran umum kasus, fakta & data, profil komunitas-komunitas yang memperjuangkan, kontak (alamat, telepon, e-mail, website, dll).
  4. Partisipan dipersilahkan membawa materi apapun yang terkait dengan tema kegiatan ini, untuk pameran, workshop, dijual, dibagikan, dll…
  5. Jika partisipan membutuhkan bantuan atau tambahan biaya transportasi, panitia akan membantu mengusahakannya semampunya. Maka dari itu bagi partisipan yang membutuhkan bantuan dana transportasi untuk segera menginformasikan dan memberikan rincian biayanya kepada panitia.
  6. Partisipan diminta untuk memberi data berapa orang dan siapa saja yang akan hadir dalam kegiatan ini.
  7. Seluruh materi dan data yang disebutkan diatas harap dikirim via e-mail maksimal pada hari Jumat, 24 April 2009 ke saksi.2009@gmail.com
  8. Hal-hal diluar tersebut diatas dapat dibicarakan kembali dengan panitia.

Kontak person pemutaran film & diskusi:

Dina: 0817-0029210

Anto: 0813-84969676

Pentas Seni

    1. Partisipan diminta untuk membawa dan memenuhi keperluannya/perlengkapannya sendiri, panitia hanya menyediakan tempat dan peralatan berupa:
- Sound bass 1 buah

- Sound gitar 2 buah

- Mikropon 3 buah

- Gitar bas 1 buah

- Gitar 2 buah

- Adaptor

- Sound vocal

2. Panitia menyediakan waktu tampil untuk setiap partisipan performer (band, teater,

puisi, dll) selama 20 menit termasuk check sound/setting.

    3. Partisipan diminta untuk memberikan informasi jika ada kebutuhan yang dapat

    diupayakan oleh panitia.

    3. Bagi partisipan musik/band, diminta untuk membawa copy lagu berupa CD atau file

    untuk di putar pada saat acara berlangsung.

    4. Partisipan yang belum menyertakan kontak person harap segera mengabarkan ke

    Panitia.

    5. Rundown dan jadwal main akan diberikan menyusul

    6. Seluruh informasi dan materi berkaitan hal diatas harap di tindaklanjuti dan

    maksimal pada hari Jumat, 24 April 2009.

    7. Hal-hal diluar tersebut diatas dapat dibicarakan kembali dengan panitia.

    Kontak person Pentas Seni

    Bucek: 0856-94534980

Workshop dan Tabling

  1. Panitia menyediakan 1 meja dan 2 kursi untuk partisipan workshop dan tabling
  2. Panitia menyediakan kebutuhan air dan listrik bagi partisipan yang membutuhkan
  3. Partisipan diminta memberikan detail dan rencana kegiatan kepada panitia
  4. Partisipan diharapkan membawa dan memenuhi segala kebutuhannya sendiri
  5. Partisipan diminta untuk mengirimkan profil kelompok atau kegiatannya, manual workshop (semacam “How To”), dan kontak.
  6. Partisipan diminta untuk menuliskan sesuatu (opini, tanggapan, dll) berkaitan dengan apa yang dikerjakan dan korelasinya dengan tema kegiatan Solidaritas Aksi Korban Kejahatan Korporasi untuk di muat dalam zine/booklet kegiatan.
  7. Bagi partisipan yang hendak menjual karyanya, diharapkan untuk mendonasikan sebagian hasilnya bagi komunitas yang sedang sedang berjuang atau membangun sesuatu, dalam hal ini komunitas dari Porong, Kulonprogo, dan Pati.
  8. Untuk donasi penjualan nanti akan difasilitasi oleh panitia dan akan ada catatan tertulis yang dapat diakses oleh seluruh partisipan.
  9. Seluruh materi dan informasi tersebut diatas yang harus dipenuhi oleh partisipan harap dikirim via e-mail ke: saksi.2009@gmail.com maksimal pada hari Jumat, 24 April 2009.
  10. Hal-hal diluar tersebut diatas dapat dibicarakan kembali dengan panitia.

Kontak person Workshop & Tabling

Ambon: 0858-14315153

Demikian informasi dari kita, harap partisipasinya dalam mensukseskan kegiatan kita ini.

Untuk informasi lainnya bisa menghubungi

Mita : 0818-08112418

Yerry : 0815-14072786

E-mail: saksi.2009@gmail.com

Sunday, April 12, 2009

update per 14 April

Solidaritas Aksi Korban Kejahatan Korporasi

Waktu

2Mei 2009 10:00 - selesai

Lokasi :

Hall C Unika Atma Jaya, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta Selatan , Jakarta, Indonesia

Deskripsi :

Waktu/Tempat: Sabtu, 2 Mei 2009


Kegiatan :

Pemutaran Film + Diskusi, Donasi, Workshop, Music & Art Perform, Traditional Games




Contact Person:

Suri : 0818-08112418
Andri : 0878-82491025

E-mail: saksi.2009@gmail.com

! Bawa kaos polos kamu untuk sablon donasi

! Bawa buku-buku mendidik untuk donasi



Penyelenggara:

SAKSI (Solidaritas Anti Kejahatan Korporasi) bekerjasama dengan Viaduct dan Senat Mahasiswa Fakultas Hukum Atma Jaya.

Partisipan yang sudah konfirmasi untuk ikutan (up date sampai hari Sabtu, 14 April 2009):



Pentas Seni:

  • 1. Musuh Pemerintah
  • 2. Agitator
  • 3. Tika*
  • 4. Saos Tomat
  • 5. The Gags
  • 6. Charvaka (Bandung)
  • 7. Santo ‘Klingon’ (Teaterikal)
  • 8. Angklungan KGB (Komunitas Goa Beruang)
  • 9. Tengkorak (Musikalisasi Puisi)




Workshop/Table:

  • 1. Food Not Bombs (Lebak Bulus)
  • 2. Institut-A- (table)
  • 3. Workshop cukil kayu & pameran oleh Komunitas Atap Alis
  • 4. Workshop crat dari bahan-bahan re-use oleh BikinBarang
  • 5. Workshop Komik oleh Rahman
  • 6. Workshop Patung oleh Bonjes
  • 7. Workshop & Talkshow Musik oleh Efek Rumah Kaca


*masih menunggu konfirmasi